Touring III

Hari terakhir touring kami juga tidak kalah kesannya.

Inilah hari terakhir kami , rookies , dalam melakukan touring menuju ke air terjun cibeureum. walau halangan , rintangan , telah dilewati , tapi semuanya tidak menjadi masalah dan beban pikiran. Dalam perjalanan pulang , keadaan jalan raya terasa lenggang sekali. Hanya beberapa kendaraan yang lewat. Tetapi sebaliknya , arah naik ke puncak sangat padat sekali , dipenuhi oleh kendaraan berplat B! . inilah salah satu hal yang paling saya senangi ketika perjalanan pulang , yaitu tidak ada halangan ,tepatnya tidak ada macet. Akhirnya sayapun bisa pulang dengan tenang dan sambil memikirkan saya tidur di ranjang dengan bedcover saya. tidur setelah berjalan jauh merupakan salah satu berkah yang berlimpah bagi saya. tetapi , semua itu berubah ketika berada di ciawi. Ternyata , jalan yang harus kami lewati ditutup arus oleh polisi. Padahal , jika kami lurus maka kami akan sampai ke Jakarta dengan waktu dua jam. Kamipun mau tak mau harus melewati ciawi. Ternyata , benar saja , hal yang saya takutkan pun terjadi. Dewi fortuna ternyata tidak memihak kepada saya kali ini. Jalan yang sepanjang 10 kilometer , dipenuhi oleh semua kendaraan. Mobil , motor , bus pariwisata , bajaj ,bemo , bahkan penjual buah keliling berimpah ruah disana. Yang saya perhatikan hanyalah debu dan asap dan juga suara klakson yang terus berdengung di telinga saya.  tak berjelang lama, sekitar 20 menit kemudian, datanglah polisi dengan motor besarnya ,sambil berteriak menggunakan loudspeaker. Ternyata , jalan tersebut dibuat dua arah. Motor – motor yang berada di jalur kanan pun dipaksa polisi untuk mengantri lagi di barisan paling belakang. Kamipun langsung memarkirkan motor kami ke ind*maret terdekat , untuk beristirahat sekaligus menunggu agar macet yang dihadapi tidak parah dari sebelumnya. Kamipun langsung mencari warung makan terdekat.

Keajaiban-pun tidak sampai disitu. Sesampainya kami selesai makan ( saya habis 40 ribu hanya untuk nasi beserta paha anak bebek gosong ) , tiba – tiba turunlah hujan. Sebutan kota bogor sebagai “ kota hujan” pun bukan lagi menjadi mitos bagi saya. pilihannya hanya dua , yaitu menunggu hujan sampai reda atau langsung “hajar” memakai jas hujan , yang pada saat itu juga sudah jam lima sore. Menunggu hujan sampai reda ? silahkan anda ambil pilihan tersebut jika anda ingin menginap dan jalan – jalan lagi disana. Rute yang kami ambilpun adalah melewati jembatan katulampa. Ok , sudah hujan , macet , then whats next ? Macetpun tidak pilih kasih. Dia tidak memikirkan kapan dan dimana dia akan muncul. jalan yang kami lewati untuk menuju jembatan katulampa merupakan gang perumahan. Jika anda membayangkan kalau luas jalanannya sebesar perumahan orang elit , Anda salah! lebar jalanannya hanya muat kira kira tiga sampai empat langkah kaki saja. Saran saya , jika anda sudah terjebak di kemacetan dan hujan , yang harus anda lakukan hanyalah pasrah! Warga yang tinggal disanapun akhirnya turun tangan dalam mengatasi kemacetan tersebut. Salut buat warga Ciawi! Centimeter demi centimeterpun kami lewati dan akhirnya tinggal melewati jembatan katulampa.

Karena macet yang begitu parah , akhirnya posisi anggota rookies pun terpisah – pisah. Dan akibat yang terjadi adalah anggota kami , jojo dan iwan , mengambil jalur yang berlawanan dari kami. Hampir selama 30 menit kami menunggu kedatangan mereka.setelah mereka kembali ke rombongan , kamipun melewati jalur seperti pedesaan. kondisi perjalanan kami disana serasa seperti ekspedisi menuju daerah yang belum terjangkau , walaupun jalanannya sudah terbuat dari semen. Di sebelah kiri dan kanan hanya terdapat sawa dan rerumputan yang setinggi bahu , jalanan yang rusak , kurangnya penerangan di malam itu ditambah dengan hujan yang deras , semakin mewarnai perjalanan ini. setelah melewati “ pedesaan “ tersebut , kamipun melewati komplek perumahan bernama danau raya bogor. Tak berapa lama kemudian , kamipun menepi sebentar. Setelah itu turunlah bapak – bapak yang sekitar berumur 50 tahun dari motor. Sebut saja namanya Bapak Baik. Ternyata yang saya baru tau adalah , Bapak Baik lah yang selama ini memimpin jalan kami dari jembatan katulampa sampai sekarang. Usut punya usut, anggota kami ,weikang , sedang mencari orang untuk bertanya arah ketika kami sedang menunggu jojo dan iwan yang tersesat , dan akhirnya ketemulah si Bapak Baik ini. di malam hari dan di tengah hujan yang lebat ,beliau mau membantu kami untuk mengawal di jalan pintas “ pedesaan “ tadi , walaupun Bapak Baik  tidak memakai jas hujan ( hanya jaket kulit ) . Yang lebih hebatnya lagi , beliau tidak meminta bayaran! Saya beserta tim touring kami , rookies, mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada Bapak. Semoga amal bapak diterima di sisi Tuhan.Setelah perpisahan dengan Bapak Baik , kamipun berhenti sebentar di pertamina untuk mengisi bensin. Kira – kira setelah satu jam kemudian , kamipun langsung melanjutkan perjalanan. hujanpun mereda , macetpun berkurang. Yang tersisa saat itu hanyalah keinginan saya untuk pulang menikmati mandi yang segar dan juga ranjang yang nyaman. Daerah demi daerah , lobang demi lobang jalanan pun sudah kami lewati. Akhirnya , kami sampai juga di hayam wuruk pukul 10 malam. Sayapun sampai di rumah sekitar jam 10. 55 .akhirnya , sayapun bisa menikmati mandi dan tidur di ranjang yang sudah saya “tiduri” selama 20 tahun. Perjalanan pulang selama 8 jam ini terbayarkan oleh pengalaman berharga yang saya dapatkan. Jika saya ikut touring lagi , hal pertama yang saya akan lakukan adalah , mengganti jok motor saya agar pantat saya tidak sakit selama di perjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s