My first time

Saya telah tinggal di kota metropolitan , Jakarta , selama 19 tahun. Tetapi sampai sekarang, saya tidak pernah yang namanya pergi ke kota tua. Sebenarnya, saya mempunyai banyak waktu luang untuk kesana. Tetapi, yang menghalangi saya cuma satu, yaitu malas. Ya, mau gimana lagi, soalnya Jakarta sudah tidak lepas lagi yang namanya macet. Padahal pas saya kecil, kira-kira waktu itu tahun 2000, Jakarta masih lenggang banget jalanannya. Motor dan mobil masih sedikit peminatnya. Sekarang, di setiap rumah , minimal 1 keluarga mempunyai 1 motor. Ditambah lagi di jaman sekarang, kredit motor dan mobil dipermudah sama dealer. Bayangkan saja, untuk mengkredit mobil avanza , hanya diharuskan membayar D.P  sebesar 300ribu , sisanya bisa dicicil . Belum lagi pertumbuhan lebar jalan raya di ibukota hanya sebesar 1% setiap tahun. Wew! Gimana enggak mau macet. Saya malah iri dengan belanda yang juga macet. Tetapi mereka macet bukan karna kebanyakan mobil atau motor, tetapi macet karna kebanyakan sepeda! Ok, balik lagi. Saya berpikir, kalau saya selalu punya alesan untuk tidak pergi ke kota tua, kapan saya perginya?

 

 

Esoknya, saya memutuskan untuk pergi ke kota tua pada saat jam 2 siang, agar membuat saya tidak malas – malesan pergi , karna sudah tidak ada lagi matahari terik ketika saya sudah sampai disana. Saya memutuskan untuk memilih naik bus transjakarta, soalnya saya waktu itu malas naik motor. Untuk waktu estimasi , saya perkirakan sampai kesana adalah minimal 1 jam, soalnya saya pernah beberapa kali naik bus transjakarta untuk pergi kuliah. Sebenarnya sih, kalo beruntung, saya bisa saja bertemu sama cewek cakep dan ngajak kenalan. Yihi! Akhirnya selama menunggu selama 30menit, bus transjakarta sampai juga di halte. Ketika pintu busnya terbuka, sayapun sudah malas untuk naik, Soalnya di depan pintu sudah banyak orang – orang yang umplek-umplekan layaknya ayam yang dikandangin rame – rame. Kalo saya tidak naik, saya harus menunggu lagi busnya yang saya tidak tau berapa lama akan sampai. Akhirnya dengan terpaksa, sayapun ikutan masuk ke “kandang ayam” ,berdesak – desakan. Selama di perjalanan sambil umplek-umplekan, saya sudah capek untuk berdiri terus. Belum lagi ngecium bau badan orang lain yang tidak karuan, ketekpun pada diangkat dimana – mana untuk memegang handle  ataupun tiang. Gimana mau kenalan sama cewek , untuk bergerak sedikit saja sudah tidak bisa. Itupun kalau di depan ada cewek (cakep) yang saya harapkan. Walaupun saya sudah  terbiasa dengan keadaan bus transjakarta, tetap saja saya juga harus mempersiapkan mental yang kuat agar sampai ke tujuan. Malah pernah suatu kali saking sempitnya di bus dan macetnya di jalanan , hampir semua para penumpang yang tadinya berdiri , malah duduk di lantai (sayapun hampir duduk di lantai) saking capeknya. Memang, kalo kemana – mana paling enak pakai kendaraan pribadi, apalagi naik motor. Bisa nyelip – nyempil diantara celah – celah mobil ataupun trotoar jalan ( jangan ditiru lagi ya). Tapi apa daya, untuk memangkas kemacetan di Jakarta, butuh pengorbanan yang setimpal ,bukan?

 

 

Akhirnya sayapun sampai ke kota tua. Tujuan pertama saya adalah ke museum B.I atau Bank Indonesia. Di depan pintu masuk, terdapat tempat menjual tiket masuk. Saya kira kalau ke museum itu biaya masuknya gratis. Dasar! Karna saya orangnya tidak tau malu , sayapun diam – diam menyelinap masuk ketika penjaga loketnya sedang ngurusin pengunjung lain. Kesan pertama saya masuk pertama kali ke museum B.I adalah, penerangannya kurang layaknya seperti diskotik. Untung saja karna adanya bantuan sinar matahari, beberapa tempat menjadi lebih enak dilihat. Disini, terdapat banyak sekali peninggalan – peninggalan tentang bank di jaman dahulu. Jika jaman sekarang kita ada buku tabungan, ternyata di jaman dahulu seluruh transaksi yang dilakukan langsung dicatat di Bank Indonesia. Catatan tersebut disimpan di dalam buku yang sangat besar, bahkan ukurannya lebih besar dari buku yellowpage. Ruangan demi ruangan saya telusuri jejaknya, bahkan saya masuk ke perpustakaan. Di dalamnya, terdapat banyak buku – buku yang sudah lama edisinya, ada yang berbahasa Indonesia, inggris, bahkan bahasa belanda. Selama berkeliling, yang paling membuat saya takut untuk ditelusuri adalah bagian bawah tanah, tepatnya ruangan penyimpanan uang. Bayangkan saja, di dalam ruangan tersebut terdapat lorong – lorong yang sangat gelap sekali untuk dilewati. Bahkan , saya kaget ketika ada pengunjung yang ngagetin temannya, yang dimana saya berada pas di belakang temannya tersebut. di ruangan tersebut, terdapat banyak sekali uang – uang dan koin di jaman dahulu. Seperti misalnya uang lembar 100 rupiah yang ada gambar orang utan,         rupiah, bahkan ada koin – koin yang berasal dari china. Di museum tersebut juga ada kafe, tetapi pengunjungnya dodominasi oleh bule-bule mancanegara yang lagi ngopi di sore hari, dan yang dilihat pemandangannya adalah jalan raya yang dipadati oleh kendaraan pribadi maupun umum.  Selama saya berkeliling, saya juga jengkel dengan tingkah laku pengunjung museum, yang notabene adalah anak – anak muda ABG labil. Mereka dengan entengnya membuang sampah sembarangan, bahkan membuang puntung rokok ke lantai ( itupun masih ada yang menyala!).Bbahkan, di tengah museum yang tempatnya seperti taman, banyak ABG labil yang duduk bermesraan sambil memegang tangan ( kalo dalam hal ini mah saya yang sirik, Karna saya jomblo!).

 

 

 

Kunjungan saya yang kedua adalah ke museum BNI. Ternyata, museum BNI berbeda dari museum B.I. penerangannya bagus, di setiap ruangan terdapat AC jadi enggak kepanasan. Bahkan dibuat semacam jalur dan informasinya lengkap. Ketika saya mau nyelinap masukpun,saya malah ketahuan sama satpamnya. Ternyata satpamnya pun pada berjaga di posnya masing – masing. Wuih, nambah plus satu neh nilai lebihnya! Tapi sayang, ternyata waktu berkunjung museum sudah habis, jadi secara terpaksa saya keluar dari museum BNI. Di kota tua, terdapat banyak sekali pedagang disana. Seperti makanan, minuman, pakaian, aksesoris, tukang tattoo, bahkan amplifier ( sound effect) buat gitar. Disanapun terdapat juga kafe – kafe untuk kongkow – kongkow. Sayapun mau melanjutkan perjalanan saya ke museum – museum lainnya, seperti museum bahari, dll. Tapi secara tak langsung logika saya berjalan, kemungkinan besar waktu berkunjung museum – museum yang lain sudah tutup, karna waktu itu jam sudah menunjukkan jam 5 sore. Dan satu hal lagi, informasi mengenai arah mana yang saya harus telusuri kurang jelas. Soalnya informasi satu – satunya adalah papan besar yang terpampang di beberapa titik di kota tua, itupun gambar dan tulisannya sudah kurang kelihatan lagi. Akhirnya, saya memutuskan untuk pulang ke rumah, dan sekali lagi harus menghadapi sesaknya “kandang ayam” selama di perjalanan.

Advertisements

2 thoughts on “My first time

  1. Ide bagus untuk jalan-jalan di tempat bersejarah dan menarik di sekitar kita. Saya terinspirasi untuk melakukan di sekitar kota Denpasar, Bali.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s